![]() |
| Hendra Kurniawan, M.Pd. Guru SMA Regina Pacis Surakarta Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sejarah UNS |
Kisah
ini pada dasarnya berkisar pada masalah pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap
Senapati Ingalaga, Raja Mataram yang baru saja membangun istananya di Pasar
Gede atau Kuta Gede. Menurut Babad, Ki Ageng Mangir tidak mau datang ke istana
Senapati untuk menunjukkan ketundukkannya sebagai kawula Senapati, sekalipun
daerah lain yang jauh dari pusat kerajaan telah tunduk pada Senapati, seperti
daerah Kedu, Bagelen, Pati, Jepara, Madiun, Kediri, Pajang, dan Semarang.
Alasan Ki Ageng Mangir yaitu (1) keyakinan agama, “Pan Allah kang andarbeni bumi, aku suwita ing Allah huta’ala, ora
ngawula Senapati, jer pada titahing Pangeran” (Bukankah Allah yang memiliki
bumi ini, dan aku hanya menghamba kepada Allah Swt saja, bukan kepada Senapati,
karena Senapati hanyalah sesama umat Tuhan saja). (2) Ki Ageng Mangir ingin
mempertahankan tanah warisan nenek moyangnya, karena nenek moyangnya telah
membuka tanah dengan susah payah. (3) Mangir merasa cukup kuat untuk menghadapi
Senapati karena memiliki tombak yang bernama Kyai Barukuping. Menurut cerita,
siapa saja yang terkena tombak itu baik manusia, binatang, atau tumbuhan akan
mati.
Ki Ageng Mangir adalah cucu dari Ki
Ageng Wanabaya, yaitu pendiri Desa Mangir, dan bergelar Ki Ageng Mangir (I). Ia
pula yang mewariskan tombak Kyai Barukuping kepada anaknya yang juga bergelar
sama, yaitu Ki Ageng Mangir (II). Pada waktu Senapati mulai mengusik ketenangan
daerah Mangir di pinggir Sungai Progo, penguasa daerah ini adalah Ki Ageng
Mangir yang terakhir. Ki Ageng Mangir (III) ini seorang perjaka yang bagus
rupanya, pemberani, dan cukup wibawa. Bersama para pengikutnya, para bekel, dan
kepala desa yang ada di bawah pengaruhnya, Mangir tetap tegar tidak mau tunduk
pada Senapati.
Bagi Senapati, belum tunduknya
daerah Mangir berarti belum tuntasnya kekuasaan Mataram, dan akan merugikan
Senapati secara ekonomis maupun politis. Atas saran Adipati Mandakara, yaitu Ki
Juru Martani pamannya sendiri, usaha menundukkan Mangir dilakukan secara halus.
Caranya dengan memasukkan Mangir dalam perangkap perkawinan secara tersamar
dengan putri Senapati sendiri. Sehingga Mangir akan menyerah dan tunduk pada
Senapati karena ikatan perkawinan tanpa perlu pertumpahan darah.
Senapati segera menyusun rencana
penjebakan Mangir melalui pengiriman rombongan pertunjukan wayang kulit
keliling secara diam-diam. Rombongan ini terdiri dari seorang dalang, beberapa
penabuh gamelan, dan putri raja yang menyamar sebagai anak dalang tersebut.
Tumenggung Jayasupanta ditunjuk menjadi dalang, dengan berganti nama Ki Sandiguna.
Saradipa sebagai pengendang, Saradula menjadi penabuh kenong, Tumenggung Bocor
menjadi penabuh kempul, dan Nyi Tumenggung Adisara menjadi penabuh gender,
sekaligus menjaga putri Senapati yang menyamar sebagai anak Ki Sandiguna, yaitu
Dewi Retna Pembayun. Sebelumnya, Senapati telah meminta putrinya memikat Mangir
sampai mau mengawininya dan kemudian menghadapnya. Dengan berat hati, Pembayun
menerima tugas itu demi kekuasaan ayahnya.
Dengan mengaku sebagai pengikut
Bupati Kediri yang mati dalam perjalanan menghadap Senapati, rombongan mencari
penghidupan melalui pertunjukan wayang barangan dari desa ke desa. Sesampai di
desa Mangir, rombongan diterima oleh Ki Ageng Mangir dan diminta mementaskan
pagelaran wayangnya beberapa kali. Ki Ageng Mangir tidak hanya terpikat pada
pertunjukannya, tetapi juga terpikat pada kecantikan Pembayun. Ki Ageng Mangir
benar-benar jatuh cinta dan meminang Pembayun, maka gadis itu mengaku yang
sebenarnya yaitu putri Senapati. Pembayun beralasan jika dia melarikan diri
dari istana karena tidak mau dipaksa ayahnya untuk menikah dengan pria yang
tidak dia cintai. Kemudian di perjalanan dia bertemu dengan dalang Sandiguna
yang memungutnya sebagai anak. Karena kecintaannya kepada Pembayun, Ki Ageng
Mangir tidak dapat menolak bujukan Pembayun untuk datang menghadap dan mohon
ampun pada ayahnya di istana. Ki Ageng Mangir semula agak berat hati dan
khawatir, maka ia menyiapkan pengikutnya dan siap dengan tombaknya untuk datang
ke istana Kota Gede, ke tempat mertua sekaligus musuhnya.
Senapati yang mendengar keberhasilan
rencananya itu merasa gembira dan melakukan penyambutan yang meriah. Dalam
babad diceritakan bahwa keberangkatan Ki Ageng Mangir beserta rombongan pada
hari Respati Manis (Kamis Legi). Setelah sampai di depan istana, Ki Ageng
Mangir disambut dan masuk ke pendapa keraton sebelum bertemu raja, sementara
para pengikutnya ditempatkan di luar dan dijamu secara meriah. Sebelum Ki Ageng
Mangir bertemu Senapati, pusaka Kyai Barukuping dilarang untuk ikut dibawa
dengan alasan etika keraton tidak membenarkan. Setelah Ki Ageng Mangir mendekat
di hadapan Senapati untuk bersujud menghaturkan sembahnya kepada sang mertua
dan hendak mencium lutut Senapati, serta merta Senapati menggeser lututnya dan dengan
cepat kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke watu
gilang, singgasana yang didudukinya, sehingga Ki Ageng Mangir tewas
seketika. Mayatnya diusung lewat pintu belakang dan dikuburkan di tempat yang
telah disiapkan sebelumnya. Makam Ki Ageng Mangir di Kota Gede sekarang,
sebagian berada di dalam pagar dan sebagian berada di luar pagar. Hal ini
dikarenakan Ki Ageng Mangir dianggap sebagai anggota keluarga (menantu
Senapati), tetapi juga musuh Senapati.
Dalam Babad Mangir versi Raden
Ngabehi Suradipura menyebutkan kematian Ki Ageng Mangir dengan candra sangkala
“Tri Boja Tata Bumi” atau tahun 1523 Saka (Jawa) atau tahun 1601 M. Angka tahun
itu agak meragukan karena sama dengan angka tahun kematian Senapati yaitu 1601.
Meskipun mungkin saja keduanya meninggal di tahun yang sama. Akan tetapi dalam
Babad Mangir versi lain yang tidak menyebutkan angka kematian Mangir, memberi
kesan bahwa setelah kematian Mangir, Senapati kemudian dihadapkan pada
pemberontakan Pati. Setelah pemberontakan Pati, Babad menceritakan kematian Senapati.
Dalam kajian de Graaf disimpulkan bahwa pemberontakan Pati terjadi tahun 1600,
setahun sebelum kematian Senapati. Maka diduga kematian Ki Ageng Mangir terjadi
sebelum tahun pemberontakan Pati atau dapat juga terjadi di tahun yang sama
dengan pemberontakan tersebut.
Para pengikut Mangir dilucuti dan
berjanji tunduk pada Senapati. Desa Mangir dibagikan kepada orang yang berjasa
menundukkan Mangir. Terkait dengan pusaka tombak Kyai Barukuping menjadi
berpindah tangan ke Senapati dan menjadi pusaka keraton. Tombak itu menurut
Babad, diperoleh Ki Ageng Wanabaya atau Ki Ageng Mangir (I) secara mistis.
Dikisahkan dalam Babad, seorang gadis desa di lereng gunung Merbabu hamil dan
melahirkan ular ketika secara tidak sengaja menduduki pisau Wanabaya yang dipinjamnya
ketika membantu tetangga yang punya kerja. Ular besar yang dilahirkan itu
bernama Baru Klinting dan tinggal di Rawa Pening. Untuk membuktikan apakah ular
besar itu benar-benar anaknya, maka Wanabaya memerintahkan ular tersebut
melingkari gunung Merbabu. Ketika berusaha meraih ekor dengan lidahnya untuk
dapat melingkari gunung, Wanabaya memotong lidah ular besar tersebut yang
kemudian menjelma menjadi tombak.
Babad dibuat sebagai alat legitimasi
penguasa agar memperoleh pengakuan dari rakyat demi eksistensi kekuasaannya. Hal
ini dapat terjadi dikarenakan asal-usul Senapati yang sebenarnya berasal dari
keluarga petani yang kemudian mendapat hadiah tanah Mataram karena ayahnya, Ki
Ageng Pemanahan, berhasil membantu Hadiwijaya (Jaka Tingkir) mengalahkan Arya
Penangsang. Babad Tanah Jawi (BTJ) yang dibuat pada masa Sultan Agung
menggambarkan bagaimana Mataram didirikan oleh Senapati atas dasar wangsit yang
diperolehnya melalui pertapaannya di Lipura. Dikisahkan dalam BTJ, Senapati
didatangi oleh tokoh mitos yaitu penguasa Laut Selatan, Nyai Rara Kidul yang
menyampaikan bahwa Senapati dan keturunannya akan menjadi penguasa Jawa (Raja
Jawa), meskipun nantinya di masa cicitnya berkuasa akan terjadi perpecahan di
Mataram. Demikian juga halnya dengan Babad Mangir, kemungkinan besar sengaja
dibuat sebagai pelengkap dari BTJ. Babad Mangir pada akhirnya juga menjadi alat
legitimasi bagi Senapati. Keberhasilan Senapati sebagai penguasa hebat yang
menaklukan daerah Mangir dan memperoleh pusaka tombak Kyai Barukuping semakin
menegaskan hegemoninya.
Selain simbol-simbol legitimasi tersebut,
BTJ juga menjelaskan silsilah raja-raja Mataram yang dimulai dari Nabi Adam,
para nabi lainnya, tokoh-tokoh pewayangan, hingga raja-raja Majapahit.
Legitimasi genealogis ini sengaja dibuat agar terlihat bahwa raja-raja Mataram
bukan keturunan orang sembarangan melainkan leluhurnya adalah orang-orang
hebat.
Dalam Babad Mangir yang telah dijabarkan
sebelumnya terlihat bahwa peranan wanita sebagai alat politik sudah ada sejak
dulu. Kesediaan putri Senapati, Dewi Retna Pembayun, memenuhi permintaan
ayahnya untuk memancing Mangir menunjukkan bahwa wanita dapat menjadi sarana
meraih kekuasaan. Wanita menjadi alat yang halus namun ampuh dan berhasil
meluluhlantakkan hati Mangir hingga bersedia datang menemui Senapati. Jika kita
mengamati sisi lain dari kisah Mangir ini, terlihat bahwa pada awalnya Pembayun
enggan untuk mendukung rencana ayahnya tersebut, akan tetapi dengan terpaksa
Pembayun melakukannya juga. Hal ini perlu dikaji lebih mendalam mengenai
perasaan Pembayun setelah mengenal Mangir. Sosok Mangir muda yang gagah
perkasa, berani, dan memiliki kepribadian yang baik dapat saja menumbuhkan
benih cinta dalam hati Pembayun. Akan tetapi ketika perasaan itu barangkali
muncul, Pembayun harus merelakan Mangir yang telah menjadi suaminya itu mati di
tangan ayahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar